Putra Nababan : Jeni Cahyani Telah Mengajarkan Komitmen Toleransi

Jakarta, News16.net, – Anggota Komisi X DPR RI Putra Nababan bangga dengan komitmen toleransi yang diajarkan oleh Jeni Cahyani Hia, siswi kelas X SMK Negeri 2 Padang, Sumatera Barat yang menolak menggunakan jilbab karena bukan beragama Islam.

“Saya bangga sekali punya generasi muda seperti dia dan itu dilindungi undang-undang. Dia mengajarkan kita semua untuk berani menyampaikan apa yang menjadi kesepakatan para pendiri bangsa ini,” kata Putra dalam Webinar Pewarna Indonesia dengan topik “SKB 3 Menteri: Memupuk Asa Toleransi di Sekolah, Jumat (12/2).

Menurut Putra, membangun nilai-nilai kebangsaan dan sikap toleransi melalui pendidikan harus terus diperjuangkan. 

Apalagi belakangan ini, tambahnya, tindakan intoleransi dan bahkan menjurus kepada eksterimisme cukup marak terjadi di negeri ini.

“Benih intoleransi muncul karena berbagai faktor, salah satunya tingkat pemahaman nilai kebangsaan yang sempit maupun penanaman nilai agama yang ekslusif di sekolah,” paparnya.

Putra mendorong agar lebih banyak lagi siswa yang menyampaikan pendapat apabila gurunya tidak sadar atau pura-pura tidak sadar atau belum pernah baca undang-undang, tentang betapa toleransi sangat penting diwujudnyatakan.

“Nggak apa-apa, guru diajari murid juga boleh. Nggak harus selalu guru mengajari murid. Di era sekarang, murid juga bisa memberi feedback kepada guru,” katanya.

Lebih lanjut Putra menjelaskan kehadiran SKB 3 Menteri tentang Penggunaan Pakaian Seragam dan Atribut Bagi Peserta Didik, Pendidik, dan Tenaga Kependidikan berguna untuk meneguhkan komitmen kebangsaan yang sudah dibangun pendiri bangsa ini.

“Kalau kita lihat dari SKB 3 Menteri tidak lain untuk mengembalikan makna toleransi yang sempat bergeser ke arah intoleransi,” ujar Putra.

Untuk itu, Putra mendorong semua pihak agar kasus yang menimpa seorang siswa perempuan yang menolak penggunaan busana dari agama tertentu kepada siswa beragama lain tidak terulang lagi.

“Dari sini bisa dilihat bahwa proses pendidikan di negeri ini belum optimal membentuk warga negara yang dapat mewujudkan suatu keadaban bersama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, serta belum mampu mengkreasi manusia Indonesia seutuhnya,” imbuh Putra yang lama malang melintang di dunia jurnalis ini.

Putra juga meminta agar semua pemangku kepentingan di dunia pendidikan meneladani pendiri bangsa yang tidak pernah mengedepankan kepentingan kelompoknya.

“Ini adalah warisan kita, modalitas yang kita miliki saat ini. Hal-hal yang asing dari luar jangan dibawa-bawa. Intoleran dan individualis, itu bukan gotong royong, itu budaya asing. Pasti bukan Indonesia,” tegasnya. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *