ADA PERAN ANAS DALAM SKANDAL BOP PESANTREN ANNUQAYAH

NEWS16.NET|Sumenep, – Pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Lubangsa, KH. Muhammad Ali Fikri, M.Pd.I menerima dengan baik silaturrahim dari Ketua dan Sekretaris Yayasan Sosial dan Dakwah Siratul Islam Por Dapor Guluk-Guluk Sumenep Jawa Timur (03/04/21).

Ketua LKBH IAIN Madura, Sulaisi Abdurrazaq menyampaikan bahwa, Sekretaris Yayasan Siratul Islam, Rifa’i Riyan, telah memberi klarifikasi kepada Kiai.

Menurutnya, sebelum peristiwa ini mencuat, data-data Yayasan Siratul Islam memang pernah diserahkan kepada seseorang yang menyatakan siap membantu untuk mendapatkan program dari Pemerintah, tetapi bukan BOP. Kemungkinan besar data itulah yang digunakan oleh seseorang bernama Anas untuk melakukan tindakan memalsu data Annuqayah, memalsu tanda tangan Ketua Yayasan Siratul Islam, memalsu stempel dan kop surat dan lain-lain demi untuk mencairkan BOP dengan mencatut nama An Nuqayah Lubsa Guluk-Guluk sehingga seolah-olah An Nuqoyah Lubsa itu di bawah naungan Yayasan Siratul Islam.

Setelah LKBH IAIN Madura melakukan investigasi dan menemui semua pihak, tidak ada Pondok Pesantren bernama An Nuqoyah Lubsa di Guluk-Guluk, yang ada adalah Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Lubangsa Guluk-Guluk Sumenep Madura Jawa Timur.

Selain itu, Ketua Yayasan Sosial dan Dakwah Siratul Islam Por Dapor, KH. Subairi, M.Pd.I menyatakan, bahwa tidak ada lembaga bernama An Nuqoyah Lubsa di bawah naungan Yayasan Sosial dan Dakwah Siratul Islam Por Dapor. Dengan demikian LKBH IAIN Madura menyimpulkan bahwa data yang diajukan ke Kemenag tersebut fiktif.

Setelah masalah ini diketahui oleh pihak Pondok Pesantren Annuqayah ternyata terdapat beberapa orang yang mendatangi Pengasuh melalui pengurus, salah satunya adalah pelaku.

Pelaku menyerahkan sejumlah uang sebesar 46 juta rupiah kepada pengurus dan menyatakan bahwa yang 4 juta telah diserahkan kepada pihak Yayasan yang digunakan untuk mencairkan. Sementara Ketua dan Sekretaris Yayasan Siratul Islam telah menegaskan di hadapan pengasuh bahwa sama sekali tidak mengenal yang namanya Jamaluddin dan tidak pernah menerima uang dari mereka.

Seluruh Tim Penasehat Hukum Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Lubangsa Guluk-Guluk, Sulaisi Abdurrazaq, Nur Hayati, Adioyono, A. Tajul Arifin serta Taufiqurrahman diminta agar mencari tiga hal:

Pertama, siapa yang mengajukan permohonan BOP ke Kemenag dengan menggunakan data An Nuqoyah Lubsa Guluk-Guluk.

Kedua, apakah ada dari pihak Kemenag yang terlibat.

Ketiga, siapa saja yang terlibat dibalik para pelaku.

Pengasuh menyampaikan melalui Tim Penasehat Hukum bahwa sejumlah uang 46 juta rupiah telah diterima dan berencana akan dikembalikan kepada negara/Kemenag karena Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Lubangsa tidak pernah mengajukan dan data yang tercatat di Kemenag bukanlah data Annuqayah, oleh karena itu kami tidak berhak.

Sejumlah uang tersebut diterima agar menjadi Barang Bukti bagi penegak hukum dan/atau agar dapat dikembalikan secara resmi dari Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Lubangsa kepada negara/Kemenag Pusat (FAN/Tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *